Azza Aprisaufa Motivator Muda Indonesia - Trainer Nasional Termuda - Undang Pembicara Seminar Motivasi

Senin, 08 Desember 2014

Kisah Hidup Inspiratif - Pengibar Bendera Pusaka Asal Tanah Gayo - Aceh

Kisah Hidup Inspiratif - Pengibar Bendera Pusaka Asal Tanah Gayo - Aceh

Fajrika - 17 Tahun. Hidup dari latar belakang keluarga sederhana, telah membuat fajrika berjanji untuk tidak akan pernah berhenti memberikan yang terbaik untuk barisan orang orang yang dicintainya. Anak dari seorang petani ini mengenyam pendidikan di SMA N 3 Timang Gajah, Tepatnya daerah Aceh, Bener Meriah. Daerah Kabupaten Bener Meriah adalah daerah yang berada didataran tinggi tanah gayo  - Aceh. Daerah ini adalah daerah yang juga serumpun dari suku gayo lainnya yang ada di provinsi aceh, seperti Aceh Tengah - Gayo Lues.

Kisah haru ini, akan membuat anda lebih mencitai orang orang yang anda sayangi, terutama sosok ibu. Semua kisah ini bermula saat fajrika mengikuti seleksi pemilihan calon paskibraka nasional tahun 2012 ditingkat kabupaten / kota. Alhasil, fajrika pun lolos dan terpilih sebagai CAPASNAS "Calon paskibraka Nasional" perwakilan kabupaten bener meriah untuk mengikuti seleksi selanjutnya di Banda Aceh untuk tingkat Provinsi.

Seleksi yang amat sangat ketat telah dilalui fajrika mulai dari tingkat kabupaten / kota, hingga ketingkat provinsi. Namun fajrika muda itu tidak pernah kelihatan gugup atau gentar sedikitpun untuk menghadapi seluruh lawan tandingnya. Hingga akhirnya Kadis Pemuda dan Olah Raga Provinsi Aceh menobatkan fajrika sebagai CAPASNAS 2012 perwakilan aceh, untuk mengikuti perhelatan akbar Penaikan Bendera Di Istana Negara pada tanggal 17 Agustus 2012.

Keberangkatan Fajrika ke Istana mewakili Aceh. Ternyata memiliki nilai sejarah yang berbeda dari prestasi lainnya, kenapa ? Karena Jarang sekali ada orang dari suku gayo aceh yang bisa menembus prestasi dibidang Paskibra ketingkat nasional. Fajrika membuat sejarah untuk seluruh masyarakat dan suku dataran tinggi tanoh gayo, yang bisa menembus istana negara. Mulai dari pejabat daerah hingga seluruh elemen masyarakat gayo pun, pada saat itu terharu biru mendengar prestasi anak gayo tersebut, karena memang belum pernah ada orang gayo yang bisa menjadi paskibraka nasional di istana negara.

Ucap syukurpun telah diucapkan, syukuran kecilpun telah dilaksanakan. Hingga tiba saatnya fajrika harus berangkat ke istana untuk mengikuti tahapan pelatihan dengan para pelatih ditingkat nasional di jakarta. Keluarga fajrika ikut mengatarnya hingga ke bandara Internasional SIM " Sultan Iskandar Muda" Blang Bintang - Aceh. Diantara semua nasihat, ada satu nasihat yang paling diingat oleh fajrika sebelum ia terbang ke jakarta. Nasihat itu ia dengar dari Ibunya yang berkata " Apapun yang terjadi nak !, tetaplah ingat ALLAH SWT dan serahkan semuanya KepadaNya".

Berangkatlah fajrika muda untuk mengikuti pelatihan paskibraka di cibubur. Tidak ada satupun yang mengetahui rencana dari Tuhan Semesta Alam, siapa yang sangka, 4 hari setelah fajrika berada di jakarta untuk mengikuti latihan. Ibu fajrika meninggal dunia di kampung karena sakit, sontak pemerintah daerah pun terkejut, dan langsung menghubungi para pelatih ditingkat nasional dijakarta. Para pelatihpun terharu, namun enggan memberitahu kepada fajrika bahwa ibunya telah meninggal, karena khawatir mengganggu konsentrasi fajrika saat latihan.

Singkat cerita, pada saat pengukuhan paskibaraka nasional 2012 oleh Bapak Presiden SBY di istana, berita ini pun sampai ketelinga Bapak Presiden. Lalu Bapak Presiden memanggil fajrika saat itu, dan langsung berbicara empat mata dengan fajrika. 2 Hal yang disampaikan Presiden SBY pada saat itu kepada fajrika, yang pertama adalah Fajrika anakku, engkau saat ini telah menjadi putra terbaik bangsa, untuk itu saya selaku presiden memilihmu untuk menjadi pengibar ditahun ini.

Fajrika pun terkejut bahagia, dan ia ingin sekali ibunya tahu, bahwa presiden memilihnya sebagai pengibar. Karena posisis menjadi pengibar ini adalah posisi penting yang sangat diimpikan oleh setiap anggota paskibraka khususnya yang putra. Namun akhirnya menjelang detik detik pengibaran, dan pelaksanaan penaikan bendera, presiden pun tidak kuasa menahan haru dan merasa berhutang kepada fajrika untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya mengenai ibunya.

Presiden pun berkata "Fajrika", apapun informasi yang akan saya sampaikan kepadamu, mohon untuk bisa tetap sabar dan tabah. Fajrikapun mengangguk dan siap menerima semua informasi dari presiden. Pada saat itu seluruh pasukan hening, dan presiden pun menyampaikan berita duka cita tentang kepergian ibunda fajrika kepadanya. Fajrika pun hampir jatuh pingsan dan tidak percaya, ia menangis di istana, namun apapun kondisinya, fajrika haruslah kuat, karena ia telah ditunjuk menjadi pengibar.

Akhirnya, kesedihan fajrikapun bisa teratasi karena banyaknya support dan dukungan dari sahabatnya sepelatihan disana. Dalam suasana hati yang tidak menentu, fajrikapun berjanji untuk bisa memberikan yang terbaik pada pengibaran nanti diistana, dan mengatakan " Aku kibarkan bendera ini untuk indonesia demi almarhumah ibuku.

Kini fajrikapun telah menjalani kehidupan selayaknya anak muda biasa, ia telah menempuh pendidikan kuliah dan duduk disemester 3 pada jurusan Ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di aceh. Kini ia telah menulis semua kisah dan perjalanan hidupnya, kedalam sebuah novel inspiratif yang diberi judul "MERAH PUNCE", Yang dalam terjemahan bahasa daerah gayo artinya adalah "Mencari Puncak Kebahagiaan".

Semoga kisah ini menginspirasi anda. Aamiin. motivatorindonesia.co.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Hidup Inspiratif - Pengibar Bendera Pusaka Asal Tanah Gayo - Aceh

1 komentar: