Azza Aprisaufa Motivator Muda Indonesia - Trainer Nasional Termuda - Undang Pembicara Seminar Motivasi

Rabu, 14 Januari 2015

Kisah Nyata Di Kutacane - Wanita Tegar Berjalan Dengan Kedua Tangannya


Dilahirkan pada bulan Maret 1990 adalah Hijrah Yanti seorang wanita yang dibesarkan seorang diri oleh ibunya, dan sejak kecil telah ditinggal ayahnya. Hijrah yanti adalah anak bungsu dari 2 bersaudara. Diusianya yang masih 2 tahun, secara tiba tiba, Hijrah yanti mengalami panas dan demam tinggi, hingga berakibat pada kelumpuhan kedua kakinya. Maka sejak usia 2 tahun, ia tidak lagi bisa berjalan dengan kedua kakinya secara normal. Pengaruh kelumpuhan itu menyebabkan kedua kakinya terus mengecil hingga memaksanya harus berjalan dengan kedua tangannya.

Ia telah berjalan dengan kedua tangannya, sejak masih berusia 2 tahun hingga saat ini ia telah berusia 25 tahun. Semasa sekolah, mulai dari SD  hingga SMA ia jalani dengan kondisi seperti itu, bahkan hingga saat ini, hijrah yanti tengah menyelesaikan studi S1 nya disalah satu Universitas swasta yang ada disana. Hijrah yanti akrab sekali dipanggil dengan panggilan yanti, ia tumbuh dan besar bersama seorang kakak dan ibunya. Tepatnya ditahun 2008 yang lalu, ibunda yanti jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kini yanti pun tinggal bersama pamannya, sementara kakaknya telah pindah karena ikut suaminya.

Mulai sejak tahun 2008 itulah yanti merasa benar benar kehilangan, dan merasa benar benar terpuruk. Ditengah keadaan dan kondisinya yang seperti ini, ia juga harus kehilangan ibunda terkasih yang selama ini setia mengurusinya. Tapi kondisi dan keadaan itu tidak membuatnya mundur selangkahpun demi berjuang untuk membuat kehidupan yang lebih layak seperti orang orang. Setelah tamat dari SMA, yanti pun mengikuti kursus menjahit, hingga kini ia telah menjadi penjahit yang sangat baik. 

Untuk mencukupi kebutuhannya sehari hari, disamping aktif kuliah, ia pun bekerja disalah satu toko usaha jahit yang ada dikotanya. Rupiah demi rupiah ia tabung hingga kini ia telah berhasil membeli satu buah sepeda motor untuk memudahkannya berpergian ketempat kerjanya dan kampus. Sepeda motor itu ia beli sendiri dari hasil keringat kerjanya, meski harus mencicil bayaran kendaraan tersebut setiap bulannya. Karena ia sejak kecil telah memiliki motto hidup dan semangat kalau ia tidak akan pernah mau menyusahkan orang lain.

Hidup mandiri dan tidak mau menyusahkan orang lain, telah ia buktikan sejak kecil. Terbukti kini yanti 100% mengurusi kehidupannya sendiri, membiayai kuliahnya sendiri dan membeli kebutuhan hidup sendiri. Untunglah masih ada paman yang berbaik hati yang mengizinkan yanti tinggal bersamanya.

Kini yanti pun telah 4 tahun bekerja sebagai penjahit, dan hebatnya kini ia telah memiliki beberapa mesin jahit sendiri dirumahnya. Ia bertekad untuk bisa membuka usaha jahitan sendiri dirumahnya, dan kelak bisa berbagi rezeki dengan mempekerjakan beberapa rekan rekan yang menurutnya senasib dengan keadaannya. Setiap pulang kerjanya, yanti pun mengajarkan kursus menjahit dirumahnya, hingga setiap anak didiknya bisa dipekerjakan untuk menjahit dirumahnya.

Setiap kali kadang ia ingin menangis dan mengadu penderitaan hidup kepada orang tuanya, tapi ia sadar bahwa kedua orang tuanya telah tiada. Kini ia telah berhasil menjadi wanita yang bisa hidup lebih besar dari semua masalahnya. Keterbatasan fisik bukanlah tembok penghalang untuk meraih sebuah keberhasilan. Yanti bisa membuktikan bahwa batasan itu memang tidak ada, tapi kitalah yang selalu membatasinya. Kini pesimisnya telah bertukar menjadi optimis yang tak terbendung, ia pun semakin yakin menjalani sisa kehidupannya, dan melihat letak KeMaha Adilan Tuhan dalam hidup ini. Dimana jika ada yang dikurangkanNya dari hambaNya, pastilah ada pula yang dilebihkanNya dari hambaNya tersebut.

Kini kita bisa banyak belajar dari kisah nyata inspiratif Hijrah Yanti ini, betapa hidup memang jangan mengharapkan pamrih dari siapapun. Semoga kisah nyata ini memberikan semangat baru untuk anda bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih bersemangat kedepannya. Bersyukurlah karena boleh jadi anda masih hidup lebih beruntung dari banyaknya orang diluar sana yang jalan hidupnya lebih berat dari jalan hidup anda. motivatorindonesia.co.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kisah Nyata Di Kutacane - Wanita Tegar Berjalan Dengan Kedua Tangannya

0 komentar:

Posting Komentar