Azza Aprisaufa Motivator Muda Indonesia - Trainer Nasional Termuda - Undang Pembicara Seminar Motivasi

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kisah Haru Dibalik Lukisan Kaligrafi Ermi Daini


Kisah ini diangkat dari sebuah cerita nyata yang terjadi pada saat penyelenggaraan MTQ Ke 32 Provinsi Aceh 2015 di Kabupaten Nagan Raya. Ermi Daini, inilah nama lengkapnya. Lahir di desa Lot Kala, Kebayakan Aceh Tengah pada 15 Mei 1991, diusianya yang kini 24 tahun telah banyak hal hal hebat yang telah ditorehkan oleh wanita kelahiran tanoh gayo ini khususnya dibidang goresan tangan kaligrafi arab. Sadar betul bahwa ia tidak berangkat dari keluarga yang berada telah membuat ermi, total dalam menimba ilmu pengetahuan dan terus mengasah bidang yang disukainya yakni khat / lukisan kaligrafi arab.

Tidak hanya mahir dan ahli dalam bidang lukisan tulisan arab, ermi juga adalah pemecah rekor sarjana tercepat pada Fakultas Kesenian Unimed. Unimed sempat "geger" dan telah mencatat bahwa ermi adalah satu satu mahasiswi dengan predikat paling cepat menyelesaikan program S1 nya pada jurusan seni rupa yakni 3 tahun 8 bulan, sepanjang Fakultas Kesenian dibuka. Kemampuan dan keahliannya melukis tulisan arab, sepertinya memang tidak perlu disangsikan lagi, ini terbukti dari banyaknya daerah daerah diberbagai wilayah indonesia yang meminta ermi untuk bisa bertanding dan membawa nama daerah tersebut.

Pernah beberapa kali ermi menjuarai MTQ setingkat nasional bidang kaligrafi seperti di Makassar dan beberapa lainnya ditingkat daerah serta kabupaten kota. Tapi torehan prestasi itu semuanya tidak membuatnya puas dan bangga, karena ia membawa nama kota dan daerah lain. Ermi pun bermimpi suatu saat nanti ia harus bisa berprestasi dan memberikan gelar serta kebanggaan dengan membawa nama daerah / kota kelahirannya sendiri yakni Takengon, Aceh Tengah.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya mimpi itu pun terwujud. Ermi dipanggil oleh TIM Penyeleksi dan dinobatkan untuk bisa mewakili Kontingen Aceh Tengah berlaga di MTQ Se Aceh di Nagan Raya. Ermi pun tak kuasa menahan rasa harunya, bergegas ia pun menceritakan perihal tentang dipercayakannya menjadi salah satu Kafilah bidang Kaligrafi kepada kedua orang tuanya. Kebanggaan itu pun rasanya lengkap karena baru pertama kalinya ermi bisa berlaga dengan membawa nama daerah kelahirannya sendiri. 

Ia pun berjanji kepada kedua orang tuanya untuk benar benar memberikan yang terbaik dari yang ia punya untuk daerah kelahirannya dan terlebih lagi untuk kedua orang tuanya. Persiapan pun terus dipupuk, ermi pun tak henti hentinya berlatih guna mempersiapkan pagelaran bergengsi MTQ Ke 32 Se Aceh tersebut. Sering ia merasa tak pede dan terkadang minder serta kurang percaya diri, untuk menghadapi Pertandingan terbesar di Aceh ini. Tapi itu semuanya pupus sesaat ia melihat senyum bangga dari wajah kedua orang tuanya.

Ayahnya pernah bilang, kalau ia sangat bangga memiliki anak seperti ermi yang tidak hanya rajin beribadah, sholat dan mengaji. Tapi juga ahli dalam seni lukis tulisan arab dan telah memberikan prestasi yang cukup membanggakan. Ermi pun terus mengingat pesan ayahnya yang pernah berkata, bahwa "ini adalah kesempatan baik untuk memberikan yang terbaik buat daerah ini dan tidak boleh di sia siakan. ujar ayahnya". 

Akhirnya ermi pun telah mantap dengan persiapannya yang matang, kepercayaan diri yang siap dan dukungan dari kedua orang tuanya yang terus memberikan semangat kepada dirinya. Ermi pun serasa tak sabar ingin cepat cepat berlaga dalam kompetisi tersebut. Kepercayaan diri nya telah membuatnya serasa lulus dari ujian ketakutan yang selama ini terus menyelimuti pikiran dan perasaannya.

Setelah semua terasa siap, dan menjelang keberangkatan. Kisah haru ermi pun dimulai, ia benar benar harus melewati ujian yang sesungguhnya. Ermi pun harus siap bertanding tanpa dukungan sang ayah yang telah terlebih dahulu meninggal dunia akibat sakit. Kondisi ini hampir tidak bisa dilewati oleh ermi yang sangat mencintai ayahnya, ia pun terus menangis dan menyerahkan semua ini Kepada Sang Pencipta ALLAH SWT. 

Entah apa yang ada dalam hati dan pikiran anak 24 tahun itu saat ayahnya telah meninggal. Namun demikian amanah untuk bertanding haruslah ia jalankan. Tinggal lah seorang ibu yang memberinya dukungan moril, walau dalam keadaan sangat terpukul dan tertekan batin, ermi pun terus menatap perjuangannya di MTQ ke 32 Aceh 2015 tesebut. Ia pun berjanji kepada sang ibu, akan memberikan seluruh kekuatan untuk bisa menang. Dan kemenangan ini ia persembahkan untuk almarhum ayah tercintanya.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, dan mengalahkan beberapa pelukis arab terbaik lainnya, ermi pun keluar sebagai juara ke 2 dalam tingkat MTQ Se Aceh tersebut. Sungguh tak disangka, dalam kondisi yang masih berduka, ia masih tetap bisa memberikan prestasi yang cukup untuk membanggakan daerah dan almarhum ayahnya. Kini ermi pun tak mau larut dan hanyut terus menerus dalam kesedihan karena kehilangan sang ayah. Ia pun telah mulai bangkit dan ingin terus berkarya untuk membuktikan kata kata almarhum ayahnya yang pernah berkata bahwa, "Ayahnya bangga memilikinya". Ermi pun bertekad untuk tak akan pernah berhenti berkarya agar ayahnyanya bisa tetap bangga.

Inilah sedikit kisah haru yang cukup inspiratif, betapa kita bisa banyak belajar tentang arti sebuah pengorbanan yang harus dibuktikan untuk orang yang kita sayangi. Ketegaran ermi patutlah menjadi pembelajaran dan motivasi untuk kita agar tetap bisa memberikan yang terbaik walau dalam tekanan dan ujian yang hebat sekalipun. Sahabat karib ermi : Kanda Muhazirmotivatorindonesia.co.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kisah Haru Dibalik Lukisan Kaligrafi Ermi Daini

0 komentar:

Posting Komentar