Azza Aprisaufa Motivator Muda Indonesia - Trainer Nasional Termuda - Undang Pembicara Seminar Motivasi

Jumat, 15 Januari 2016

Kisah Haru Para Perempuan Hebat Dibalik Kopi Yang Mendunia


Kisah ini  terjadi tepatnya diwilayah dengan dataran tinggi dan suhu udara yang sejuk dingin serta didalamnya tersimpan mahakarya ciptaan Tuhan dalam bentuk keindahan alam yang sangat menakjubkan. Lama tinggal di Kota ini, saya sering mendengar banyak yang mengatakan kalau kota ini adalah surganya kopi. Faktanya saya melihat sendiri bahwa kota ini memang benar benar surganya kopi. Hampir 70% dari seluruh wilayahnya ditanami pohon kopi, baik dibelakang rumah, disamping bahkan membentang hingga kelereng lereng pegunungan.

Tak heran, ribuan ton kopi terus dihasilkan dari kota dingin ini diolah dan di ekspor hampir keseluruh punjuru dunia, dengan kualitas kopi nomor 1. Bahkan baru baru ini juga kopi dari daerah ini mendapatkan predikat kopi termahal didunia. Tak ubahnya seperti kata pepatah "Ranting rela patah demi menahan buah" begitu pun ternyata sebuah kopi yang berkualitas tidak dihasilkan dari kerja yang biasa. Namun kopi kopi dengan kualitas yang mendunia itu ternyata dihasilkan dari jari jari tangan terampil para buruh dengan gaji Rp. 500,- (lima ratus rupiah) / kilogram kopinya. 

Cukup banyak para perempuan yang menjadi penyortir kopi di beberapa perusahan penghasil dan pengekspor kopi di Kota ini. Bahkan para perempuan itu rela duduk seharian dari pagi hingga malam hari untuk menyortir / memilih biji biji kopi terbaik dari ribuan ton tumpukkan biji kopi yang telah dikemas didalam karung. Hasil sortiran para perempuan inilah yang nantinya akan diekspor ke manca negara. Yang mereka tahu hanyalah memisahkan biji kopi yang baik dan biji yang rusak, bahkan mereka tidak pernah tahu bahwa ternyata hasil sortirannya itu bernilai jutaan dolar dimanca negara. Masing masing perusahaan memiliki lebih dari 250 perempuan penyortir kopi yang keseluruhannya adalah berasal dari masyarakat dengan ekonomi rendah.

90 % dari para perempuan perempuan itu sangat menggantungkan hidup anak dan keluarganya dari upah yang diterimanya setelah menyortir kopi. Mereka dibayarnya Rp.500,- / Kg biji kopinya, jadi jika para perempuan ini duduk seharian dan menghasilkan 50 Kg biji kopi, maka upah yang mereka terima setelah duduk sehariannya adalah Rp. 25.000,- saja. Tidak sedikit dari para perempuan itu yang membawa anaknya saat menyortir kopi. Bahkan mereka menggendong sambil menyusui anaknya dan tetap bekerja. Karena tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup, banyak dari mereka yang terpaksa meminjam sejumlah uang pada pihak perusahaan sehingga upah kerja mereka harus dipotong untuk mencicil pelunasan pinjaman tersebut.

Hampir jantung saya berhenti ketika tak sengaja saya melihat ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang tak berhenti menangis. Bahkan para pekerja yang lain pun sudah sangat terbiasa selama ini mendengar tangisan dari sang anak tersebut. Menurut pengakuan dari beberapa pekerja bahwa anak yang digendong oleh ibunya itu setiap hari menangis dan tak pernah berhenti. Saat saya perhatikan kain gendong anak tersebut pun terlihat basah, karena air liur sang anak. Sambil memilih kopi sang ibu pun tak henti mengelap air liur sang anak dengan kain gendongnya.

Saat ditanya ternyata sang anak ibu itu telah mengalami kelumpuhan dan syndrome sejak lahir. Itulah yang membuatnya tak normal dan selalu menangis. Namun apa daya, ekonomi yang sulit, dan upah yang sangat kecil telah memutuskan asa seorang ibu untuk membawa anaknya berobat. Sejauh yang kami dengar bahwa anak itu pun hanya dibawa berobat ke pengobatan pengobatan kampung yang berbiaya seikhlasnya. Tak lama dari kejadian yang kami saksikan itu seminggu setelahnya, sang anak pun meninggal dunia akibat penyakitnya.

Sebelum saya menutup kisah haru ini, ada satu tragedi lagi yang membuat saya tak bisa menahan air mata. Secara tiba tiba, terjadi pemeriksaan disaat para penyortir itu bekerja. Menurut informasi yang diterima bahwa telah terjadi kehilangan hand phone milik salah seorang staf di perusahaan itu. Sehingga para penjaga perusahaan pun menggeledah satu persatu tas milik para pekerja. Setelah sejumlah pekerja diperiksa tasnya, ada salah seorang pekerja lainnya yang menolak untuk diperiksa tasnya. Setelah dilakukan pemaksaan pun perempuan ini tetap memeluk tasnya dan tidak mengizinkan tasnya dibuka / digeledah.

Kecurigaan pun timbul dari para petugas dan para pekerja yang lainnya. Apakah perempuan itu yang mencuri telepon genggam milik seorang petugas ? Perempuan itu pun terus menangis histeris dan menolak untuk tasnya diperiksa. Akhirnya dengan komunikasi yang baik, perempuan itu pun mau tas nya diperiksa tapi tidak didepan umum. Pihak perusahaan pun membawanya kesebuah ruangan tertutup dan berhasil menggeledah isi tas seorang buruh penyortir kopi itu.

Seketika setelah petugas membuka isi tas nya. maka seketika itulah kecurigaan para petugas berubah menjadi air mata yang tak tertahankan. Para petugas yang membuka tas sang perempuan itu pun terduduk lemas tanpa kata dan hanya bisa mengeluarkan air mata. Akhirnya seluruh pekerja / petugas yang sedang bekerja saat itu semuanya menangis haru. Bahwa ternyata isi tas perempuan itu berisikan tumpukan kue dan kumpulan makanan makanan bekas sisa yang terbuang diperusahaan untuk dibawa pulang kerumahnya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah, dari semua fenomena yang tragedi sosial yang terjadi disekeliling kita. Tetaplah bersyukur dan tak henti berbagi. Menyayangi orang lain, seperti menyayangi diri sendiri. Mari belajar, dan menebar kasih sayang karena ALLAH SWT pun Memulai NamaNya dengan ungkapan Kasih Sayang, "Bismillahirrahmanirrahim". motivatorindonesia.co.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kisah Haru Para Perempuan Hebat Dibalik Kopi Yang Mendunia

0 komentar:

Posting Komentar